Lembar Tagihan-Nya

Belum genap 1 bulan,

Sejak tahun 2026 dimulai. Entah diva yg memang belum siap, atau diva yg tidak pernah mempersiapkan diri sebelumnya, pagi hari diva mendapat pesan singkat untuk mendaftarkan diri di lowongan pekerjaan dekat rumah. Tidak sampai 10 menit perjalanan. Lowongan dari salah satu Lembaga pelayanan kesehatan milik pemerintahan.

Tarik mundur, sebenarnya lowongan itu sudah di sebar kira-kira dua pekan yang lalu oleh kawan diva di grup angkatan. Saat itu diva langsung meneruskan pesannya kepada mama, diva katakan betapa tergiurnya diva dengan tawaran pekerjaan tersebut. Obrolan kami pun mengalir sampai pada cerita salah seorang muassis ponpes lasem, bu Ny. Ma’shum. Singkat ceritanya beliau adalah seorang sholihah yg berpuasa selama 30 tahun berturut-turut. 10 tahun untuk nirakati dirinya sendiri, 10 tahun untuk anak keturunannya dan 10 tahun untuk santri-santrinya. Diceritakan pada masa beliau tirakat tersebut, penerangan masih menggunakan lampu minyak dan sumur timba untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Suatu pagi diantara remangnya fajar, beliau menimba air seperti biasa dan terkejut saat menemukan ember yg ia timba bukannya berisi air justru berisi emas. Emas berkilau satu ember. “Ya Allah, bukan ini (tujuan tirakat) yg saya mau” ucap Bu Ny. Ma’shum dengan terkejut sambil melempar kembali embernya kedalam sumur.

Kembali ke obrolan diva dan mama tempo hari, diva bercerita kalau setiap bolos mengaji dan ingin memulai kembali, diva selalu mendapatkan tawaran pekerjaan secara personal. Di sediakan peralatan terapi tanpa di minta bayaran dengan jam kerja menyesuaikan kebutuhan diva, diajak menjadi host live streaming dengan jam kerja diva yang atur, sampai tawaran pekerjaan yg sangat dekat dr rumah. “itu kamu masih sepele loh, kak” pungkas mamah. belum bisa dibandingkan dengan setimba emas milik Bu. Ny. Ma’shum.

Kemudian hari berlalu, satu pesan singkat dari mama masuk ke aplikasi Whatsapp diva, ‘coba daftar dulu kesini, kak. Siapa tau masih ada. Siapa tau masih rezeki’. Deg. Seketika otak diva seperti kehilangan pasokan oksigen. Entah diva yang memang belum siap, atau diva yang tidak pernah berpikir untuk menjadi siap. Rasanya seperti mendapati sebagian besar kepercayaan diri diva runtuh. Dengan singkat, diva meng-iya-kan pesan mama. Tanpa pertanyaan, tanpa tanggapan lebih. Sambil menghadapi rasa linglung, sambil diva mengambil jeda untuk berpikir. Ujian kah ini? atau sebuah isyarat? bahwa sudah habis waktu diva di pondok. Hari itu diva menghela napas lebih sering dibanding biasanya.

Sambil beraktifitas dengan energi yg lebih rendah dari hari-hari sebelumnya, sambil diva berpikir. Kalau diva boyong sekarang, bekal apa yg akan diva bawa pulang kerumah? sorogan baru muqoddimah, setoran diva bahkan belum genap ** juz. Pegangan apa yg akan mengokohkan diva saat goyah di rumah?

Sambil berpikir bekal boyong, sambil diva menghitung diri diva. Memang diva mengakui, betapa malasnya diva akhir-akhir ini. Diva bisa tertidur, dan tetap memilih tertidur meski kepala diva sudah berat karena terlalu banyak tidur. Diva enggan makan meski makanan sudah tersedia di depan diva. Beberapa hari sebelum hari dengan chat pagi itu, diva memang beberapa kali berpikir, diva selalu memiliki waktu untuk menjadi malas. Diva selalu memiliki waktu untuk memilih ‘akan bangun atau tidak’ hari ini. Diva selalu mendapati, waktu memberi diva ruang untuk menikmati malas. Lalu bagaimana dengan orang tua diva?

Pak yai Anshori selalu berpesan; “tidak perlu merisaukan rezeki, lakukan saja peranmu sebaik mungkin. Yang memang bagianmu akan tetap sampai padamu”. Sedikit banyak, diva memang meyakini bahwa meski diva tidak bekerja, biaya kebutuhan diva akan selalu terpenuhi asalkan diva menjalankan kewajiban diva dengan baik. Seperti beberapa kali diva mendapati kiriman diva menurun seiring turunnya semangat diva dan yang terbaru kemarin adalah hadiah liburan tanpa memikirkan ongkos setelah tangis penuh emosional tempo hari.

Sambil terus beraktifitas, sambil diva berpikir apa yg bisa diva lakukan kalau diva masih ingin di pondok. Sambil diva menghitung kembali berapa banyak uang kiriman yg bisa diva potong, berapa batas paling minimal kebutuhan diva untuk tetap dipondok. Sambil menghitung, sampailah diva di malam hari. Persiapan ngaji besok pagi. Sebelumnya semua masih terasa abu-abu, sampai diva di-sentil-Nya oleh satu ayat; “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘sekiranya kamu memiliki Khazanah Rahmat tuhanku, niscaya kamu tahan karena takut habis’. Manusia itu memang sangat kikir.”

Ternyata diva diminta-Nya untuk ikhlas menyiapkan infaq terbaik. Sambil menangis, sambil diva menyesali betapa diva sudah menerima sangat banyak, bukannya mengasihi lebih banyak, diva malah makin menahan banyak.

Sudah mendapat tempat tidur ternyaman, bahkan dengan tambahan penghangat ruangan jika dibutuhkan, bukannya semakin banyak memberi dengan ‘banyak melek dan berbuat’, diva malah menahan banyak nikmat tidur untuk diri diva sendiri. Sudah diberi banyak nikmat sehat, bukannya semakin banyak memberi dan beramal, diva malah semakin banyak menahan nikmat sehat dengan berleha-leha dan rebahan. Setelah diberi banyak nikmat kenyang, makanan enak, akses jajan yang mudah, bukannya semakin dijadikan bekal berbuat baik, beribadan, diva malah menahan nikmat tersebut untuk diri diva sendiri.

Diva sudah menerima begitu banyak kasih sayang-Nya, tapi diva terlalu kikir dan menahannya untuk diri diva sendiri. Ternyata, pesan singkat dipagi hari itu adalah pesan singkat tagihan hutang-Nya.

Sambil masih berpikir dan memantapkan diri untuk mulai berhenti menahan-nahan nikmat-Nya, sambil diva survey berapa minimal biaya bertahan hidup dipondok, seseorang teman diva lewat. Langsung saja diva wawancarai, “kamu kiriman berapa kali sebulan, mba?”, “dua kali” jawabnya. “sekali kiriman berapa?” lanjut diva, “100k” pungkasnya. Melihat perawakannya yg segar berisi, aktivitasnya yang lebih lelah fisik dibanding diva, akademiknya yg tetap bagus, diva yakin diva bisa bertahan meski jatah bulanan diva dipangkas habis-habisan.

Segera diva susul balasan chat mama tadi pagi untuk pertimbangan ulang kepindahan diva dengan banding pemotongan biaya bulanan. Barangkali infaq kepada keluarga jadi infaq yg paling utama, maka biarlah diva infaq-kan sebagian kiriman bulanan diva. Ternyata chat mama pagi tadi, bukan permintaan pulang. Tapi lembar tagihan-Nya yg harus diva lunasi.

Sampai disini, sedikit banyak diva berpikir, mungkin hal-hal seperti tawaran pekerjaan itu datang menyesuaikan energi, niat dan bagaimana diva menjalani hari. Kalau diva memang tertarik menekuni segala yg ada dipondok, pastilah tawaran untuk berkembang itu akan datang dari pondok. Tapi kalau dipondok diva tidak lg aktif, ketertarikan rendah, maka tawaran dr luar-lah yg akan menarik diva.

Pak Yai Anshori selalu berpesan bahwa, esok ingin seperti apa, maka gapai dari sekarang. Pantaskan diri kita untuk apa-apa yg kita cita-citakan. Maka saat waktunya sudah tiba, kita akan pantas berada di posisi yg kita cita-citakan.

sebuah perumpamaan yg diva dapat dari salah satu teman diva: ada orang tua yg berpura-pura sehat agar anaknya tetap bersekolah, sedang anaknya berpura-pura sakit agar tidak perlu berangkat ke sekolah

Semoga Allah memberi usia panjang, sehat wal afiat, rezeki melimpah dan khusnul khotimah kepada orang tua kita, guru kita dan juga kita semua. Aaamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seorang Anak Kecil dan Baju '"bau toko"nya

Males cuci piring sampai Bu Nyai turun tangan? 😱