Rndm day divaaa yg resign setelah 4 bulan bekerja

 Baiklah, hai temanteman. Kembali lagi pada cerita rndm day divaaa yg resign setelah 4 bulan bekerja.

4 bulan? Itu kerja apa hamil kucing? Wkwk

Gusti Allah ngga pernah bilang semua masalah akan terasa mudah, tapi Dia bilang, disetiap kesulitan, selalu ada kemudahan.

Kamu kesulitan ditempat pekerjaan, tapi kamu dimudahkan menerima uang gaji tanpa memikirkan banyak resiko.

Kamu kesulitan memikirkan resiko pekerjaan, tapi kamu dimudahkan menerima keluasan kesempatan dan waktu.

Diva pernah menerima permintaan jasa terapi, yg sekali kunjungan, setara dengan 2 hari gaji diva di salah satu klinik. Menyenangkan, tapi permintaannya tidak datang setiap hari.

Diva pernah menerima permintaan bekerja, yg per-satu jamnya tidak sampai sepuluh ribu. Menyusahkan, tapi diva berangkat dengan hari dan gaji pasti.

Iya, long story short, ceritanya diva sudah sampai ditahap ‘memilih berhenti dari tempat bekerja’

Jauh sebelum hari ini datang, Pak Yai Anshori Syukri Anshori Syukri sering berpesan; kerjalah. Tapi jangan mengeluh. Jangan bosnya atau jobdesknya kamu keluhkan tapi gajinya kamu ambil. Kalau kerja, ya kerjalah. Seberapa tanggungannya, tanggung. Kalau tidak setuju, keluar.

Maka setelah sebenarnya, si princess manja ini memang belum terbiasa dengan tekanan pekerjaan, merasa mengeluhkan jobdesknya tapi belum tau bagaimana mempertahankannya. Akhirnya dengan pertimbangan ‘dari pada bekerja, gaji tidak seberapa, tapi keluhan menggunung. Habis tenaga, emosi dan uang tidak banyak pula’ keluarlah si diva ini.

Diva ngga bakal cerita panjang lebar tentang bagaimana diva bisa keluar atau apapun alasannya yaa, diva hanya akan bercerita, pelajaran apa yg diva ambil dari kesempatan singkat itu.

Persis sebulan sebelum akhirnya diva resign, Pak Yai Anshori Syukri Anshori Syukri berpesan dalam satu majelisnya bahwa sudah menjadi hukum alam kalau di dunia ini kita memang harus mau berbagi dan berdesakan. Tempat yg saat ini di gunakan telapak kakimu untuk berpijak, tidak bisa digunakan orang lain untuk berpijak juga. Bangunan yg saat ini berdiri, tidak bisa dijadikan lahan lagi untuk membangun bangunan lain. Ruang yg tersedia memang seperti sifat dunia, terbatas. Maka manusia harus berbagi. Pemilik lahan ingin keuntungan, penanam modal ingin keuntungan, pemasok bahan baku ingin keuntungan, pegawai ingin keuntungan. Semua perlu berbagi. Sesuai porsi.

Pak Yai Anshori Syukri Anshori Syukri selalu mengajarkan, kalau hasil selalu sebanding dengan resiko. Semakin besar resikonya, semakin besar kemungkinan untungnya, besar juga kemungkinan ruginya. ‘الأجرة بقدر التعب’ Al ujroh bi qadrit ta’ab. Hasil yg diterima selalu beriringan dengan resiko yg di tanggung.

Pak Yai Anshori Syukri Anshori Syukri selalu mengajarkan untuk tetap menjadi manusia yg memanusiakan manusia. Pak Yai Anshori Syukri selalu menanamkan bahwa dimanapun kita bekerja, tetap Allah lah penentu hasilnya. Tetap Allah lah penentu rugi untungnya. Tetap Allah lah pengatur sulit mudahnya.

Biasanya Pak Yai Anshori Syukri mencontohkan, kerja punya karyawan itu enak, kalo lagi rame. Kalo lagi sepi? Siapa yg susah? Malah bos yg sibuk nyariin kerjaan buat karyawannya. Jadi sebenarnya siapa kerja untuk siapa?

Apakah bos yg nyariin kerjaan buat karyawan, atau karyawan yg kerja buat bos?

Tapi bos dapet hasil lebih besar dibanding karyawan? Ya jelas, karena resiko nya lebih tinggi. Bos modal lahan, bahan baku, relasi, kemungkinan rugi untung, untung kalo usahanya rame, kalo sepi? Buntung bayar karyawan.

Meski begitu, Pak Yai Anshori Syukri tetap menanamkan, kerja dimanapun, berapapun hasilnya, terima. Kalo ngga suka, keluar. Jangan kerjaannya dicela, tapi gajinya diambil.

Diva yakin itu tidak bisa berlaku buat semua kondisi, tapi sekarang diva tau memang banyak di lingkungan diva yg sebenarnya mengeluhkan pekerjaanya, tapi tetap bertahan. Kenapa? Banyak hal. Tapi Pak Yai Anshori Syukri Anshori Syukri memang sering membahas, banyak dari kita bekerja hanya untuk ‘dibayar hidupnya’. Umr solo 2,4. Biasanya Pak Yai Anshori Syukri bertanya, kalua gaji segitu, kapan kira-kira seorang bisa membeli rumah? Meski ini kesalahan sistemik, tapi diva sadar beberapa pekerjaan memang belum dirancang untuk menciptakan lapangan pekerjaan yg membantu karyawannya berkembang. Kebanyakan hanya untuk menyambung hidup. Hidup untuk bekerja, bekerja untuk hidup.

Tapi dibalik semua itu, Pak Yai Anshori Syukri Anshori Syukri selalu menekankan, bekerjalah, bekerja ditempat yg ada unsur ‘belajar’nya. Bekerjalah, ditempat yg nanti kamu bisa mandiri dengan pekerjaanmu. Jangan berniat bekerja untuk selamanya ‘ikut’ orang lain.

Kalau kemarin pesan Pak Yai Anshori Syukri bahwa dunia ini sempit dan sesak, kita harus berbagi. Mungkin sementara ini diva belum berada di fase ikhlas berbagi sebanyak berbagi kepada pemilik lahan, penanam modal, penjual bahan baku, dan penjual bensin juga makanan. Mungkin sementara ini diva baru bisa iklhas berbagi dengan penjual bensin eceran, penjual bahan baku eceran dan beberapa penjual jajanan kesukaan.

Lagi, seperti yg biasa Pak Yai Anshori Syukri ajarkan tentang pengasuhan. Jangan menuntut orang tuamu seperti yg kamu inginkan, tapi jadilah kamu orang tua, seperti yg kamu inginkan. Dari pengalaman 2 klinik dengan owner berbeda, diva tau rumus ini juga bisa digunakan pada pekerjaan. Jangan minta bosmu menjadi seperti yg kamu inginkan, tapi jadikanlah dirimu seperti bos yg kamu inginkan.

Akhir kata, Pak Yai Anshori Syukri Anshori Syukri selalu mengajarkan, seperti konsep tukang pos. selama pengirimnya masih mengirimkan pesan kepadamu, pesannya akan tetap sampai meski tukang antar posnya berganti-ganti.

Selama kamu yakin bahwa Pemberi Rezeki-mu masih ada, diantarkan dari jalan manapun, Rezekimu akan tetap sampai padamu, meski perantaranya berbeda-beda.

Dari awal diva bekerja, diva sudah memberi kesempatan diri diva untuk berbuat salah. Bahwa semua hal baru yg diva lakukan, sangat mungkin mengalami kesalahan. Dengan usia diva yg masih muda, kesalahan perlu dijadikan kawan. Kalau saat ini ternyata keputusan diva salah, maka biarlah menjadi kesalahan. Diva menerima kesalahan atas keputusan yg diva buat. Tapi bagaimanapun keadaannya, diva yakin ada Dzat yg Berkuasa yg tidak pernah meninggalkan diva. Alaa kulli ni’mah, Alhamdulillah <3

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lembar Tagihan-Nya

Selamat datang di 21 🤍

Seperti mencintai, kita semua awam soal skripsi